Assalamu'alaikum warahmatullahi wa barokatuh
Nahdlatul Ulama merupakan organisasi massa Islam yang pengikutnya terbesar di Indonesia, bahkan berdasarkan Jusuf Kala NU merupakan organisasi massa Islam Terbesar didunia. Tahukah anda? Bahwa NU ikut ambil bab dalam peperangan melawan pemerintahan penjajah. Terbukti, semenjak tahun 1916 dari kalangan santri telah menciptakan pergerakan-pergerakan untuk melawan pemerintah kolonial dengan membentuk pergerakan Nahdlatul Wathan {Kebangkitan Tanah Air}.
Tidak cukup hingga disitu saja, untuk menjadi wadah dalam bidang agama, pendidikan, sosial, dan politik kalangan santri juga membentuk Nahdlatul Fikri {Kebangkitan Pemikiran} pada tahun 1918. Selain itu pergerakan para santri juga membentuk Nahdlatul Tujjar {Kebangkitan Kaum Saudagar} yang bertujuan untuk memperbaiki keadaan ekonomi masyarakat ketika itu.
Yang menjadi dasar berdirinya Nahdlatul Ulama tak luput dari dongeng memilukan Kekalahan Syarif Husain (Sunni) Raja Hijaz (Mekkah) dari Abdul Aziz bin Saud (Wahabi), tersebar kabar hingga pelosok bahwa Abdul Aziz bin Saud akan melarang warganya untuk mengerjakan amaliah para (Sunni) termasuk bermadzhab, ziarah kubur, maulid nabi, tawasul, bahkan makam Nabi Muhammad SAW pun juga akan menjadi sasaran kaum wahabi yang nantinya akan dimusnahkan (digusur)danin-lainnya. Dengan dalil melanjutkan kekhilafahan Usmaniyah, Maka dari itu Abdul Aziz bin Saud menggelar muktamar dimekkah, Indonesiapun tak lupa dengan permintaan tersebut.
Pada mulanya perwakilan dari Indonesia yakni HOS Cokroaminoto (SI), KH. Mas Mansur (Muhammadiyah), KH. Abdul Wahab Hasbullah. Dalam pemilihan itu ternyata ada yang janggal, KH. Abdul Wahab ternyata tidak mewakili suatu organisasi meskipun dia menjadi dikalangan pesantren. Maka dari itu muncul pemikiran dari KH. Abdul wahab untuk menyatukan para pengasuh pondok pesantren. KH. Hasyim Asy'ari pun tidak menolak gagasan Abdul Aziz bin Saud, untuk memurnikan pedoman islam, akan tetapi hal yang tidak dapat dia terima yakni membuang semua 4 madzhab (melepaskan diri) dengan cara melecehkan dan membodoh-bodohkan maka dari itu berdirilah suatu wadah organisasi yaitu Jam'iyah Nahdlatul Ulama sebagai salah satu wakil organisasi islam yang menolak gagasan itu di Muktamar komite Hijaz di Mekkah.
Berikut ini yakni kepengurusan PBNU tahun 1926 :
Syuriah
Rais Akbar:
KH. Hasyim Asy'ari (Jombang)
Wakil Rais Akbar:
KH. Dahlan Ahyad (Surabaya)
Khatib Awal:
KH. Abdul Wahb Hasbullah (Jombang)
Khatib Tsani: KH. Abdul Claim (Cirebon)
A'wan:
KH. Mas Alwi Abdul Aziz (Surabaya)
KH. Ridwan Abdullah (Surabaya)
KH. Said (Surabaya)
KH. Bisri Syamsuri (Jombang)
KH. Abdullah Ubaid (Surabaya)
KH. Nahrowi (Malang)
KH. Amin (Surabaya)
KH. Maskuri (Lasem)
KH. Nahrowi (Surabaya)
Mustasyar
Ketua:
H. Hasan Gipo (Surabaya)
Sekretaris:
M. Sidiq Sugeng Judodiwirjo (Pemalang)
Bendahara:
H. Burhan (Gresik)
Pembantu Umum:
H. Sholeh Jamil (Surabaya)
H. Ichsan (Surabaya)
H. Dja'far Alwan (Surabaya)
H. Usman (Surabaya)
H. Ahzhab (Surabaya)
H. Nawani (Surabaya)
H. Dahlan (Surabaya)
H. Mangun (Surabaya)
Anggaran Dasar :
1. Menyebarkan pedoman agama islam berdasar empat madzhab
2. Ekspansi dalam bentuk madrasah dan memperkuat keorganisasian
3. Menyatukan para ulama dan memperkuat pedoman empat madzhab
4. Membantu dalam pembangunan masjid, mushola, dan ponpes serta memperlihatkan bimbingan terhadap kitab-kitab yang diberikan kepada madrasah ataupun forum pendidikan
5. Menyantuni anak yatim dan membantu para fakir dan miskin.
Tujuan utama didirikannya organisasi Nahdlatul Ulama yaitu mengamalkan pedoman Ahlussunnah Wal Jamaah yang menganut salah satu 4 Madzhab (Syafi'i, Hambali, Maliki dan Hanafi).
Yang menjadi dasar berdirinya Nahdlatul Ulama tak luput dari dongeng memilukan Kekalahan Syarif Husain (Sunni) Raja Hijaz (Mekkah) dari Abdul Aziz bin Saud (Wahabi), tersebar kabar hingga pelosok bahwa Abdul Aziz bin Saud akan melarang warganya untuk mengerjakan amaliah para (Sunni) termasuk bermadzhab, ziarah kubur, maulid nabi, tawasul, bahkan makam Nabi Muhammad SAW pun juga akan menjadi sasaran kaum wahabi yang nantinya akan dimusnahkan (digusur)danin-lainnya. Dengan dalil melanjutkan kekhilafahan Usmaniyah, Maka dari itu Abdul Aziz bin Saud menggelar muktamar dimekkah, Indonesiapun tak lupa dengan permintaan tersebut.
Pada mulanya perwakilan dari Indonesia yakni HOS Cokroaminoto (SI), KH. Mas Mansur (Muhammadiyah), KH. Abdul Wahab Hasbullah. Dalam pemilihan itu ternyata ada yang janggal, KH. Abdul Wahab ternyata tidak mewakili suatu organisasi meskipun dia menjadi dikalangan pesantren. Maka dari itu muncul pemikiran dari KH. Abdul wahab untuk menyatukan para pengasuh pondok pesantren. KH. Hasyim Asy'ari pun tidak menolak gagasan Abdul Aziz bin Saud, untuk memurnikan pedoman islam, akan tetapi hal yang tidak dapat dia terima yakni membuang semua 4 madzhab (melepaskan diri) dengan cara melecehkan dan membodoh-bodohkan maka dari itu berdirilah suatu wadah organisasi yaitu Jam'iyah Nahdlatul Ulama sebagai salah satu wakil organisasi islam yang menolak gagasan itu di Muktamar komite Hijaz di Mekkah.
Berikut ini yakni kepengurusan PBNU tahun 1926 :
Syuriah
Rais Akbar:
KH. Hasyim Asy'ari (Jombang)
Wakil Rais Akbar:
KH. Dahlan Ahyad (Surabaya)
Khatib Awal:
KH. Abdul Wahb Hasbullah (Jombang)
Khatib Tsani: KH. Abdul Claim (Cirebon)
A'wan:
KH. Mas Alwi Abdul Aziz (Surabaya)
KH. Ridwan Abdullah (Surabaya)
KH. Said (Surabaya)
KH. Bisri Syamsuri (Jombang)
KH. Abdullah Ubaid (Surabaya)
KH. Nahrowi (Malang)
KH. Amin (Surabaya)
KH. Maskuri (Lasem)
KH. Nahrowi (Surabaya)
Mustasyar
Ketua:
H. Hasan Gipo (Surabaya)
Sekretaris:
M. Sidiq Sugeng Judodiwirjo (Pemalang)
Bendahara:
H. Burhan (Gresik)
Pembantu Umum:
H. Sholeh Jamil (Surabaya)
H. Ichsan (Surabaya)
H. Dja'far Alwan (Surabaya)
H. Usman (Surabaya)
H. Ahzhab (Surabaya)
H. Nawani (Surabaya)
H. Dahlan (Surabaya)
H. Mangun (Surabaya)
Anggaran Dasar :
1. Menyebarkan pedoman agama islam berdasar empat madzhab
2. Ekspansi dalam bentuk madrasah dan memperkuat keorganisasian
3. Menyatukan para ulama dan memperkuat pedoman empat madzhab
4. Membantu dalam pembangunan masjid, mushola, dan ponpes serta memperlihatkan bimbingan terhadap kitab-kitab yang diberikan kepada madrasah ataupun forum pendidikan
5. Menyantuni anak yatim dan membantu para fakir dan miskin.
Tujuan utama didirikannya organisasi Nahdlatul Ulama yaitu mengamalkan pedoman Ahlussunnah Wal Jamaah yang menganut salah satu 4 Madzhab (Syafi'i, Hambali, Maliki dan Hanafi).


0 komentar:
Posting Komentar