Jangan lihat langit tinggi
Ataupun menggapai maritim dalam
Akan tetapi lihatlah tetanggamu
Yang sedang menggapai-gapai
Ingin memegang tanganmu
Dari ceruk keganasan alam
Pagi tidak lagi cerah. Matahari yang seharusnya menembus atmosfer, sekarang tidak bisa menembus lapisan awan yang tebal dan debu-debu yang beterbangan. Angin berhembus hingga menggoyangkan dahan-dahan pohon yang hampir semuanya tertutupdebu tebal. Sehelai daun lepas dari rantingnya dan jatuh--yang sebelumnya dipermainkan oleh bayu-- hingga menyentuh punggung kaki sesosok manusian yang sedang bangkit mematung. Tangannya memegang bersahabat pembatas jembatan yang menyeberangi Sungai Cibeureum. Sementara, matanya memandang sayu kepulan asap berbentuk cendawan raksasa dipucuk Gunung Papandayan. Bagi Ki Udin, jumat kali ini sangat berbeda, alasannya yaitu sempurna ketika ia mengangkut seember air untuk mengisi kolam mandi, Gunung Papandayan kembali menggelegar. Getarannya hampir menumpahkan seluruh isi embernya. Ia melihat gunung itu telah memuntahkan ribuan meter kubik bom vulkanik setinggi 4 hingga 6 kilometer.
Haruskah ia mengungsi kembali?
Sejak letusan pertama, Ki Udin yang lebih banyak didominasi warga Desa Sirnajaya Sunda sudah mengungsi ke Masjid Agung Cisurupan. Tinggal sementara disana, tidaklah mengenakkan. Apalagi, campur baur pengungsi yang tidak teratur telah mengurangi kenyamanan ibadah di Ramadhan ini. Sebelumnya--menurut pembicaraan beberapa pengungsi yang ia dengar--Gunung Papandayan berada dalam status siaga. Entah apa maksudnya. Yang ia pahami, status ini tergolong berbahaya. Apalagi dimusim hujan begini, sewaktu-waktu sanggup terjadi banjir magma. Tepat sesudah azan zuhur kemarin, penanggung jawab sekaligus petugas pengamat Gunung Papandayan memperbolehkan pengungsi untuk kembali kedesanya masing-masing, terutama Desa Cipaganti, Pangauban, dan Sirnajaya.
Ki Udin mendesah. Baru saja sebuah truk yang bermuatan penuh pengungsi dan barang-barang berharganya lewat untuk kembali mengungsi ke Masjid Agung Cisurupan. Akankah lebaran kali ini harus ia rasakan disana? Matanya agak memanas dan deburan hatinya semakinenggelora. Sungai Cibeureum yang berada sempurna dibawahnya sudah tak jernih lagi alasannya yaitu lumpur yang melebat. Bahkan, sisi-sisinya sudah terlihat membatu. Sawah-sawah yang juga dilewati sungai inijuga sudah banyak yang rusak alasannya yaitu lumpur yang dikandungnya.
Angin kembali berhembus. Menyentuh beberapa helai rambut yang memutih. Dilihatnya debu-debu vulkanik bergerak secara perlahan kearah Cikajang dan beberapa perkebunan, menyerupai Sumadra dan Arjuna. Mungkin, akan hingga juga ke perkebunan Cileuleuy di Pangalengan. Sekali lagi, Ki Udin mengusap wajah yang keriput. Mungkin bengana Galunggung akan terulang melalui kerabatnya, papandayan?
Tanah Priangan, merupakan tanah titipan Yang Mahakuasa yang populer subur. Kesuburan melahirkan keindahan yang menggaung kesetiap teling insan yang singgah atau sekedae lewat hingga dirindukan untuk kembali lagi. Bahkan, menut kisah beberapa orang dulu, yang masih percaya pada dewa-dewa, tanah Priangan yaitu tanah para tuhan yang ingin beristirahat dan dijaga oleh tuhan itu sendiri. Lalu, apa yang telah menciptakan alam Priangan ini murka? Manusiakah?
Ki Udin menerawang. Mengenang ketika masih muda dan bekerja di Bandoeng Vooruit sebagai pemandu wisata bagi sinyoh dan nonih kaum Walanda pada 1930-an. Biro wisata yang sangat populer di jamannya itu menetapkan Gunung Papandayan menjadi nomer satu atau puncak dari rangkaian perjalanan Bandung-Pangalengan-Malabar-Talun-Sedep-Cileuleuy, yang kesemuanya itu yaitu nama-nama perkebunan teh populer di Bandung Selatan. Kawasannya hijau, sejuk, dan harum. Udin muda teringat ketika ia harus menempuh lereng pegunungan ke arah utara yang jalannya menanjak, sempurna ke bibir kawah yang menyemburkan asap putih dan warna kuning emas belerang. Tak henti-hentinya ia membesarkan dan menyucikan asma Tuhan di antara sebutan aanminning (indah, cantik 'Belanda'). Kawah itu dikelilingi hutan yang masih lebat dan rimbun. Burung-burung kecil, menyerupai cangkurileung, cangkurawok, bincarung, bultok, caladi kundang, tikukur, dan titiran melengkingkan kicaunya yang berpadu dengan burung-burung besar, menyerupai kasintu, gagak, dan heulang ruyuk. Melambungkan hati orang yang mendengarnya. Suara begitu serasi dan indah, mengalahkan gelegak panas kawah Bungbrung, Parugpug, Nangklak, dan kawah lainnya.
Pada puncaknya yang paling tinggi, ada hutan tupan. Dapat dibayangkan kalau ia melihatnya dari atas. Di Tegal Alun-alun banyak rumpun bunga edelweis putih-ungu yang menciptakan para nonih berbunga-bunga ketika para sinyoh memetik dan menawarkan bunga itu. Seketika suasana menjadi begitu romantis, apalagi senandungan Unter de linden (lagu Belanda tempo dulu) dari lisan mungil para nonih Walanda yang sangat merdu. Tepat dibawahnya ada Pondok Saladah alasannya yaitu banyaknya tanaman selada (sejenis sayuran) dan ajaran mata air jernih yang turun ke hulu Sungai Cibeureum. Lalu, di Tegal Palalangon para sinyoh-nonih dapat menikmati pemandangan yang indah di mazhab papat, sebuah tempat strategis yang sanggup melihat pemandangan keempat arah mata angin. Ke arah timur, mereka sanggup melihat hamparan Kota Garut. Ke arah barat, terdapat permadani dari perkebunan teh yang hijau menyegarkan. Ke arah utara, terlihat Gunung Puntang yang menjulang tinggi nan gagah. Lalu ke arah selatan, garis biru Lautan Hindia terlihat sangat faktual dan menyegarkan mata. Di mazhab papat ini, Udin muda dan juga para Walanda akan terpukau dengan empat sisi keindahan yang tiada dua. Apalagi, hawa hirau taacuh yang sejuk menyelimuti dan rangkupan kabut tipis hingga menambah syahdu suasana. Juga harum dari pepohonan jamuju, rasamala, saninten, kihiur, samida, dan lain-lainnya bersama jeritan fauna semakin menambah suasana yang demikian alami.
Ki Udin mendesah kembali. Itu pemandangan dahulu yang tak pernah ia lupakan. Keindahan dan kesuburan telah memagnet dirinya untuk tinggal di kaki Gunung Papandayan. Hutan di puncak Papandayan sudah berstatus cagar alam, tetapi yang ia dengar terakhir, daerah itu telah bedah bubrah (rusak parah, tidak berbentuk lagi menyerupai sedia kala). Pohon, fauna dan perangkat alami lainnya telah berkurang. Manusia telah serakah mmbabat, memburu, dan merusak demi kepuasan perut dan nafsunya belaka.
Angin mendesah. Beterbangan bersama senandung lirih dari lisan kering seorang Ki Udin yang galau ...
Haruskah ia mengungsi kembali?
Sejak letusan pertama, Ki Udin yang lebih banyak didominasi warga Desa Sirnajaya Sunda sudah mengungsi ke Masjid Agung Cisurupan. Tinggal sementara disana, tidaklah mengenakkan. Apalagi, campur baur pengungsi yang tidak teratur telah mengurangi kenyamanan ibadah di Ramadhan ini. Sebelumnya--menurut pembicaraan beberapa pengungsi yang ia dengar--Gunung Papandayan berada dalam status siaga. Entah apa maksudnya. Yang ia pahami, status ini tergolong berbahaya. Apalagi dimusim hujan begini, sewaktu-waktu sanggup terjadi banjir magma. Tepat sesudah azan zuhur kemarin, penanggung jawab sekaligus petugas pengamat Gunung Papandayan memperbolehkan pengungsi untuk kembali kedesanya masing-masing, terutama Desa Cipaganti, Pangauban, dan Sirnajaya.
Ki Udin mendesah. Baru saja sebuah truk yang bermuatan penuh pengungsi dan barang-barang berharganya lewat untuk kembali mengungsi ke Masjid Agung Cisurupan. Akankah lebaran kali ini harus ia rasakan disana? Matanya agak memanas dan deburan hatinya semakinenggelora. Sungai Cibeureum yang berada sempurna dibawahnya sudah tak jernih lagi alasannya yaitu lumpur yang melebat. Bahkan, sisi-sisinya sudah terlihat membatu. Sawah-sawah yang juga dilewati sungai inijuga sudah banyak yang rusak alasannya yaitu lumpur yang dikandungnya.
Angin kembali berhembus. Menyentuh beberapa helai rambut yang memutih. Dilihatnya debu-debu vulkanik bergerak secara perlahan kearah Cikajang dan beberapa perkebunan, menyerupai Sumadra dan Arjuna. Mungkin, akan hingga juga ke perkebunan Cileuleuy di Pangalengan. Sekali lagi, Ki Udin mengusap wajah yang keriput. Mungkin bengana Galunggung akan terulang melalui kerabatnya, papandayan?
Tanah Priangan, merupakan tanah titipan Yang Mahakuasa yang populer subur. Kesuburan melahirkan keindahan yang menggaung kesetiap teling insan yang singgah atau sekedae lewat hingga dirindukan untuk kembali lagi. Bahkan, menut kisah beberapa orang dulu, yang masih percaya pada dewa-dewa, tanah Priangan yaitu tanah para tuhan yang ingin beristirahat dan dijaga oleh tuhan itu sendiri. Lalu, apa yang telah menciptakan alam Priangan ini murka? Manusiakah?
Ki Udin menerawang. Mengenang ketika masih muda dan bekerja di Bandoeng Vooruit sebagai pemandu wisata bagi sinyoh dan nonih kaum Walanda pada 1930-an. Biro wisata yang sangat populer di jamannya itu menetapkan Gunung Papandayan menjadi nomer satu atau puncak dari rangkaian perjalanan Bandung-Pangalengan-Malabar-Talun-Sedep-Cileuleuy, yang kesemuanya itu yaitu nama-nama perkebunan teh populer di Bandung Selatan. Kawasannya hijau, sejuk, dan harum. Udin muda teringat ketika ia harus menempuh lereng pegunungan ke arah utara yang jalannya menanjak, sempurna ke bibir kawah yang menyemburkan asap putih dan warna kuning emas belerang. Tak henti-hentinya ia membesarkan dan menyucikan asma Tuhan di antara sebutan aanminning (indah, cantik 'Belanda'). Kawah itu dikelilingi hutan yang masih lebat dan rimbun. Burung-burung kecil, menyerupai cangkurileung, cangkurawok, bincarung, bultok, caladi kundang, tikukur, dan titiran melengkingkan kicaunya yang berpadu dengan burung-burung besar, menyerupai kasintu, gagak, dan heulang ruyuk. Melambungkan hati orang yang mendengarnya. Suara begitu serasi dan indah, mengalahkan gelegak panas kawah Bungbrung, Parugpug, Nangklak, dan kawah lainnya.
Pada puncaknya yang paling tinggi, ada hutan tupan. Dapat dibayangkan kalau ia melihatnya dari atas. Di Tegal Alun-alun banyak rumpun bunga edelweis putih-ungu yang menciptakan para nonih berbunga-bunga ketika para sinyoh memetik dan menawarkan bunga itu. Seketika suasana menjadi begitu romantis, apalagi senandungan Unter de linden (lagu Belanda tempo dulu) dari lisan mungil para nonih Walanda yang sangat merdu. Tepat dibawahnya ada Pondok Saladah alasannya yaitu banyaknya tanaman selada (sejenis sayuran) dan ajaran mata air jernih yang turun ke hulu Sungai Cibeureum. Lalu, di Tegal Palalangon para sinyoh-nonih dapat menikmati pemandangan yang indah di mazhab papat, sebuah tempat strategis yang sanggup melihat pemandangan keempat arah mata angin. Ke arah timur, mereka sanggup melihat hamparan Kota Garut. Ke arah barat, terdapat permadani dari perkebunan teh yang hijau menyegarkan. Ke arah utara, terlihat Gunung Puntang yang menjulang tinggi nan gagah. Lalu ke arah selatan, garis biru Lautan Hindia terlihat sangat faktual dan menyegarkan mata. Di mazhab papat ini, Udin muda dan juga para Walanda akan terpukau dengan empat sisi keindahan yang tiada dua. Apalagi, hawa hirau taacuh yang sejuk menyelimuti dan rangkupan kabut tipis hingga menambah syahdu suasana. Juga harum dari pepohonan jamuju, rasamala, saninten, kihiur, samida, dan lain-lainnya bersama jeritan fauna semakin menambah suasana yang demikian alami.
Ki Udin mendesah kembali. Itu pemandangan dahulu yang tak pernah ia lupakan. Keindahan dan kesuburan telah memagnet dirinya untuk tinggal di kaki Gunung Papandayan. Hutan di puncak Papandayan sudah berstatus cagar alam, tetapi yang ia dengar terakhir, daerah itu telah bedah bubrah (rusak parah, tidak berbentuk lagi menyerupai sedia kala). Pohon, fauna dan perangkat alami lainnya telah berkurang. Manusia telah serakah mmbabat, memburu, dan merusak demi kepuasan perut dan nafsunya belaka.
Angin mendesah. Beterbangan bersama senandung lirih dari lisan kering seorang Ki Udin yang galau ...
Kabitur ku gunung Guntur
Ciri kalaipan diri
Katohyan ku Papandayan
Panekaning jangji jalir
Jugrah dosa nyalira
Nyaksrak saurat sageutih
Entah apa yang menciptakan Ki Udin melantunkan syair itu. Ia teringat, pernah mendengarnya ketika kecil dahulu dari kakeknya. Sepertinya, syair itu memang cocok untuk memetakan keadaan ketika ini. Manusia menyebabkan, insan pula yang mendapatkan akibatnya.
Sewaktu mengungsi di Masjid Agung Cisurupan, ia dan pengungsi lainnya makan seadanya. Menunya hanya seputar nasi, bubur, dan mie instan yang tidak bernilai gizi baginya. Yang Ki Udin hafal, singkong, bayam, daun gedang, dan juga daun singkonglah yang bernilai gizi. Sungguh ironis ketika beberapa pengungsi dan salah satu petugas pengungsian menceritakan bahwa Gubernur Jawa Barat menawarkan derma sebanyak 4 ton beras dan uang 25 juta rupiah, pos pengungsian Masjid Agung Cisurupan hanya tercatat telah mendapatkan sekitar 8 kuintal beras. Lalu, sisanya?
Ki Udin menghela nafas panjang. Mungkin tertiup angin atau terbawa banjir lumpur, desah hatinya.
Lirik yang dilantunkan Ki Udin tadi bermakna bahwa suatu kaum yang mengingkari akad atau amanahnya, akan berada di bawah kendali musuh-musuhnya. Musuh insan kali ini yaitu alam. Ki Udin dan sebagian insan lainnya mahfum. Jika sudah berhadapan dengan alam, tamatlah manusia. Alam yaitu tentara Tuhan dan tak ada yang bisa menandingi tentara Allah. Apalagi, menandingi Penciptanya sendiri. Kekuatan insan tidak ada artinya tanpa ijin dan ridha-Nya. Kekuatan insan sangat kecil kalau dibandingkan dengan kekuatan alam. Masih terlalu kecil kalau dibandingkan dengan fisik alam itu sendiri.
Manusia memang serakah. Ketidakterpujian insan sudah sedemikian besar dan merajalela. Bukan pada satu kalangan atau golongan saja, melainkan sudah merambah ke seluruh tatanan masyarakat yang majemuk. Perilaku insan yang bergelimang noda dan dosa bukan lagi suatu keaiban, tetapi sudah menjadi budaya, kebiasaan, dan sudah mendarah daging. Tidak ada yang tidak tahu akan kebusukan, keingkaran, dan kerakusan manusia. Bahkan---bukan insan atau makhluk-makhluk berkaki dan bermata saja---Gunung Guntur dan Gunung Papandayan pun mengetahuinya. Jadi, tak heran kalau kemurkaan alam sedemikian mnghebatnya terhadap manusia. Kaum insan telah mengingkari janji. Alam sebagai musuh insan akan mengendalikan insan yang serakah.
Ki Udin membenarkan syair usang itu. Desisnya kembali mendengungkan syair bersama bunyi angin yang bersiuran. Yang tidak dimengerti Ki Udin yaitu siapa insan yang tidak menepati akad itu? Hingga manusia-manusia kecil, menyerupai dirinya dan mungkin juga beribu-ribu insan lainnya yang tidak mengerti, harus mendapatkan kemurkaan alam.
Ki Udin mendesah. Angin mendesah. Papandayan pun mendesah. Daun-daun berguguran, menutupi pemandangan sosok insan yang masih mematung di jembatan. Sementara alam, keseluruhan alam, dan keseluruhan nafas menunggu. Menunggu kelaipan manusia lainnya, dibelahan bumi lainnya.


0 komentar:
Posting Komentar